20 Juni 2021
Opini

Cegah Kejahatan dengan Perlindungan Saksi dan Korban

Oleh: Ahmad Syamil Basayef
SEBUAH survei menyebutkan bahwa kriminalitas di dunia semakin hari menunjukkan traffic meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks. Salah satunya karena semakin rakusnya manusia, sementara sumber daya alam sangat terbatas.

Kondisi tersebut menjadi pemacu bagi berbagai negara di dunia untuk terus meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat keamanan, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, penting bagi negara-negara di dunia untuk mengambil tindakan tegas, bukan hanya kepada para pelaku kriminal tetapi juga bagi saksi dan korban yang pada dasarnya memerlukan perlindungan hukum yang pasti.

Khususnya di Indonesia, tingkat kriminalitas yang terjadi saat ini, yaitu selama masa pandemic COVID-19 (Coronavirus Disease-2019) ini diketahui meningkat sebesar 19,72% dalam kurun waktu bahkan sebelum pandemi ini berlangsung. Banyaknya tindakan kriminal yang terjadi dapat mengakibatkan kekhawatiran didalam masyarakat yang dapat menyebabkan kekacauan apabila tidak segera diambil tindakan yang tegas.

Banyaknya tindakan kriminal tentunya seiring juga dengan banyaknya korban yang berjatuhan akibat dari tindakan kriminal yang terjadi. Dan seringkali ditemukan dalam suatu tindakan kriminal yang terjadi, para korban yang bersangkutan tidak ingin melaporkan tindakan kriminal tersebut yang dapat menyebabkan sulitnya proses investigasi terhadap tindakan kriminal yang dilakukan oleh para pelaku tindakan kriminal.

Seringkali penyebab para korban tidak ingin diketahui masalahnya adalah karena malu apabila tindakan kriminal tersebut yang telah dilakukan terhadap para korban diketahui public dan menjadi bahan omongan di berbagai media, terutama media online. Media online seringkali menjadi sarana untuk menyebarkan berita, baik itu berita positif maupun negative. Pada hal ini, apabila seorang korban melakukan pelaporan terhadap tindakan kriminal yang dilakukan terhadapnya, para korban takut akan “bocornya” rahasia mereka juga. Yang pada akhirnya, mereka –para korban- memilih untuk menutupi tindakan kejahatan yang telah terjadi.

Padahal ada undang-undang yang melindungi para saksi dan korban tindak kejahatan yang dapat melindungi mereka dari perlakuan-perlakuan tidak pantas yang mereka dapatkan selama menjadi korban kejahatan. Undang-undang ini merupakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Ini juga merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka tentang adanya peraturan yang melindungi mereka dari perbuata-perbuatan jahat yang mereka alami. Oleh karena itu, mereka enggan untuk memberitahu keadaan mereka yang sebenarnya kepada pihak yang berwajib pada khususnya. Apabila peraturan ini disosialisasikan dengan baik, maka dapat mengurangi tingkat terjadinya tindakan kriminal yang dapat meresahkan masyarakat, dan juga dapat melindungi para saksi dan korban kejahatan secara maksimal dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Disamping dapat menekan terjadinya tindakan kriminal, juga diharapkan dapat membuat para saksi dan korban dari tindakan kriminal untuk lebih terbuka terhadap tindakan kejahatan yang terjadi, paling tidak kepada pihak yang berwajib seperti pihak kepolisian yang berwenang untuk melindungi para saksi dan korban kejahatan. Sehingga para pihak yang berwajib dapat melakukan tugasnya dengan cepat dan segera guna menanggulangi tindak kejahatan dan juga mencegah tindakan kriminal yang akan terjadi kedepannya.

Oleh karena itu, undang-undang tentang perlindungan saksi dan korban menjadi salah satu instrument yang penting, khususnya dalam melindungi para saksi dan korban kejahatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan diharapkan dapat mencegah terjadinya tindakan kriminal kedepannya.

Ahmad Syamil Basayef, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *