20 Juni 2021
Pendidikan

Mutiara Ramadhan: Tiga Amal Tidak Terputus oleh Kematian

Oleh KH Mahlail Syakur Sf
Ketua Lembaga Ta`lif wa-Nasyr (LTN) PWNU Jawa Tengah

BANYAK aktivitas atau amal yang bernilai ibadah. Semua bentuk ibadah formal (mahdlah) seperti shalat, puasa, zakat, dan haji maupun ibadah tambahan (nafilah) yang bukan formal (ghair mahdlah) seperti shalat tarawih dan shalat malam lainnya, shalat dluha, membaca Alquran, bertasbih, bershalawat, berdzikir (tahlil), berdo’a, berbakti kepada kedua orangtua, menolong orang lain, dan lainnya merupakan ‘amal yang diberikan pahala.

Akan tetapi pahala bagi semua amal tersebut hanya berlaku bagi para pelakunya ketika masih hidup, dan akan terputus manakala pelakunya meninggal dunia.

Ada tiga amalan yang pahalanya terus mengalir diterima oleh seseorang walaupun ia telah meninggal dunia. Berdasarkan riwayat bersumber dari Sayyiduna Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda “(Jika seseorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh). Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam Abu Dawud, Imam an-Nasa`i, dan Imam Ibnu Hibban

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, amal manusia terputus ketika meninggal dunia. Sedangkan tiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut akan tetap mengalir pahalanya karena ia adalah penyebab terjadinya ketiga hal itu. Ketiga hal yang dimaksud adalah amalan yang telah dikerjakan oleh si mayit ketika masih hidup tetapi manfaatnya masih dirasakan oleh orang-orang yang hidup setelahnya, sehingga ia pun laik mendapatkan pahala kebaikan atas amalannya itu.

Hadits tersebut beriisi informasi bahwa semua aktivitas, perjuangan, dan berbagai amalan akan terhenti bersamaan dengan terhentinya nyawa kecuali tiga amalan, yaitu:

1. Sedekah Jariyah; yaitu sesuatu yang diberikan dalam bentuk apapun yang memberi manfa’at yang panjang tiada putus bagi orang lain. Contohnya adalah wakaf tanah, membangun masjid, wakaf buku, pembangunan lembaga pendidikan, menggali sumur, mencetak buku yang bermanfaat, dan lain-lain.

Sedekah jariyah merupakan sedekah untuk memberikan manfaat banyak bagi orang lain, sehingga pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang melakukan sedekahmeski telah meninggal dunia.

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan shadaqah jariyyah, adalah hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim bersumber dari Utsman bin ‘Affan ra., dia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: (Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah (ridla) Allah, niscaya Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga).

2. llmu yang bermanfa’at; seperti mengajarkan ilmu atau keterampilan kepada orang lain (siswa), menulis buku atau artikel dalam jurnal, dan lain sebagainya. Ilmu yang bermanfaat ini adalah ilmu yang berguna bagi orang lain dalam hal kebaikan.

Selama ilmu yang diajarkan tersebut masih digunakan dan dimanfaatkan oleh orang lain setelahnya maka selama itu pula pahalanya tiada henti mengalir kepadanya meski telah meninggal dunia.

Ilmu yang bermanfaat bisa berupa usaha menunjukkan seseorang ke jalan yang baik seperti beribadah, menuntut ilmu, mencintai Alquran, mencintai Rasulullah, dan sebagainya. Dalam konteks ini sabda Nabi riwayat Imam Muslim yang bersumber dari Sayyiduna Abu Hurairah ra. berikut ini patut disimak:

(Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”).

3. Anak shaleh yang mau mendo’akannya;

Anak yang shaleh adalah anak yang dididik dengan sangat baik oleh orangtuanya sehingga anak tersebut menjadi anak yang taat kepada Allah SWT., mampu dan mau mendo’akan kedua orangtuanya, taat dan bermanfaat bagi orang tuanya, agama, nusa dan bangsa.

Hadits Ini sekaligus mengajarkan kepada manusia betapa pentingnya mendidik anak secara islami, menanamkan aqidah sejak dini kepada anak, dan membimbing anak menjadi generasi yang Qurani. Karena di balik kebanggaan memiliki anak yang patuh, bertaqwa, dan shaleh/shalehah, ada amal ibadah dan kebaikan dari anak shaleh yang akan senantiasa mengalir kepada kedua orangtuanya.

Do’a anak shaleh yang ikhlas, tulus, dan selalu dipanjatkan untuk kedua orangtuanya merupakan suatu kebanggaan luar biasa bagi orangtua. Namun demikian keshalihan orangtua merupakan sarana pendidikan bagi terciptanya keshalihan anaknya.

Doa seorang anak kepada orangtua itu sangat penting, bukan berarti doa dari selain anaknya tidak diterima, akan tetapi sama kedudukannya ketika seorang jamaah berdoa untuk seseorang yang lebih tua.

Oleh karena itu, bagi saudaraku yang tidak mempunyai anak hendaklah tidak perlu berkecil hati, tetaplah bersemangat dan berbuat baik kepada sesama agar orang lain mau mendo’akan dirimu dengan sebaik-baiknya.

Setiap ada orang meninggal dunia pasti ada do’a dan shalat jenazah adalah bukti bahwa setiap kita membutuhkan doa dari orang lain, dan doa orang lain termasuk anaknya itu sampai pada orang yang dido’akan.

Adapun cara mendo’akan orangtua adalah memohonkan ampunan minimal setiap usai shalat lima waktu dengan teks sebagai berikut: (Ya Allah, Tuhanku! Sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka mendidikku di masa kecil). Waallahu a’lam bis-shawab.


Editor: Catur waskito Edy
Sumber : https://jateng.tribunnews.com/2020/05/15/mutiara-ramadhan-tiga-amal-tidak-terputus-oleh-kematian

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *