1 Agustus 2021
Berita

Menguak Tabir Haul Rebo Wekasan di Suradadi

SURADADI (FORUMWARGA.ID) – Haul Rebo Wekasan di Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal merupakan tradisi rutin setiap tahun bagi masyarakat di desa tersebut. Pencetus haul ini, seorang ulama yang bernama KH Zainal Arifin.

Semula, haul itu dilakukan untuk memperingati wafatnya KH Afroni bin KH Abdus Salam, yang merupakan ayah kandung dari KH Zainal Arifin. Wafatnya persis pada Rabu di minggu terakhir di bulan Shafar 1960 di Sugihwaras, Tanjungsari, Kabupaten Pemalang.

Sebelum wafat, almarhum berwasiat kepada KH Zainal Arifin dan keluarganya supaya dimakamkan di Suradadi bersebelahan dengan makam istrinya, Ny Maryam yang telah meninggal lebih dulu. Setelah meninggal dunia, jenazah KH Afroni akhirnya di bawa ke Desa Suradadi. Kala itu, di wilayah Pemalang belum banyak kendaraan bermotor. Jalan juga masih sepi.

Meski tidak ada kendaraan bermotor, tapi KH Zainal Arifin tetap semangat. Dia langsung membawa jenazah ayahnya dari Sugihwaras Pemalang menuju Suradadi dengan menggunakan sepeda onthel. Jarak dari desa tersebut hingga lokasi pemakaman di Suradadi sekitar 13 kilometer.

“Jenazah dinaikkan sepeda onthel. Sedangkan para pelayat berjalan kaki,” kata Tubagus Fahmi, salah satu cucu dari KH Afroni, saat ditemui Selasa (13/10).

Tubagus menuturkan, haul pertama untuk mendoakan kakeknya itu, dilakukan pada tahun 1961. Tepatnya hari Rabu 27 Shafar 1381 H (13 Agustus 1961). Awalnya, haul dilakukan secara sederhana. Tujuannya untuk memperingati wafat kakeknya. Namun, haul itu dilakukan hanya tiga tahun. Pihak keluarga hanya menggelar pengajian di tahun-tahun berikutnya.

Terlebih saat meletusnya Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S PKI) di tahun 1965, haul semakin sulit karena tidak diijinkan oleh pihak-pihak terkait. “Tapi setelah tahun 1967, acara haul kembali digelar dengan pengajian akbar,” ujarnya.

Tubagus melanjutkan, acara haul semakin besar ketika tahun 1971. Sebab, sejumlah tokoh agama, ulama dan masyarakat Suradadi dilibatkan. Hal itu diawali dengan rapat dan musyawarah bersama para tokoh di desa tersebut. Yaitu, Kepala Desa Suradadi Sodikin, tokoh agama H. Abdul Halim, KH Muhammad, KH Abdul Latif, KH Rosyidi dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Di tahun itu, haul dilaksanakan meriah. Karena tidak hanya untuk memperingati wafatnya KH Afroni, tapi juga para ulama dan sesepuh penyebar agama Islam di Suradadi. Dan hingga kini dikenal dengan istilah Haul Rebo Wekasan atau Haul Tradisi Rebo Wekasan Suradadi Tegal. Meski begitu, KH Zainal Arifin tetap sebagai penanggung jawab dan Shohibul Haul Suradadi, hingga beliau wafat.

“Sekarang, Haul Rebo Wekasan yang digagas almarhum ayah saya (KH Zainal Arifin), sudah menjadi tradisi yang mengakar, dan dikunjungi oleh ribuan pengunjung dari daerah Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Purbalingga, Banyumas dan Pekalongan,” kata Tubagus.

Menurutnya, ada kabar jika Haul di Suradadi sengaja digelar secara besar-besaran untuk pengalihan kebiasaan warga Kabupaten Tegal yang setiap Rebo Wekasan datang di Puncak Bukit Sitanjung Lebaksiu dengan tujuan mencari berkah dan berbau mistik dan klenik.

Dengan adanya Haul Rebo Wekasan di Suradadi, maka sebagian besar umat Islam di daerah Pemalang, Tegal dan Brebes akhirnya lebih memilih mendatangi pengajian dan tabligh akbar daripada datang ke acara Rebo Wekasan di Lebaksiu. “Ini salah satu tujuan diadakannya Haul secara besar-besaran,” ujarnya.

Tubagus mengungkapkan, kisah ini bersumber dari Ismail yang merupakan Paman dari KH Zainal Arifin yang tinggal di Bulakbanteng, Jatimulya, Kertasasri, Kecamatan Suradadi. “Adapun yang diperingati dalam acara tersebut ada 35 ulama yang didoakan saat Haul Rebo Wekasan di Suradadi,” imbuh Tubagus.

Teguh

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *