7 Mei 2021
Opini

Implementasi Mata Pelajaran PAI-BP Selama Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Rosidi, S.Pd.I
PENYAKIT Corona Virus atau yang biasa dikenal dengan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) adalah penyakit yang sangat meresahkan umat manusia di hampir seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-COV-2) ini menularkan penyakit pernafasan dengan sangat cepat antar manusia dan tidak pandang bulu dalam menularkan penyakit ini, dari lansia, orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bahkan bayi yang baru lahir pun dapat terinveksi virus ini apabila ibunya adalah orang yang terinfeksi.

Rosidi, S.Pd.I

Kasus pertama yang ditemukan di Indonesia adalah pada awal bulan maret yang hingga saat ini grafiknya terus naik. Dikarenakan penyakit ini menular dengan sangat cepat, membuat World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia akhirnya menetapkan wabah penyakit ini sebagai pandemi pada pertengahan maret. Di awal penyebarannya saja diketahui tidak hanya negara-negara di Benua Asia saja yang terkena dampak dari pandemi ini, bahkan negara-negara di Benua Eropa pun banyak yang terdampak seperti Italia, Perancis, Spanyol, Slovania, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, banyak Negara yang menetapkan negaranya untuk melakukan lockdown atau pengkarantinaan daerah sampai satu Negara seperti yang dilakukan Jepang. Di Negara Indonesia sendiri, pemerintah memilih untuk melakukan PSBB yang merupakan singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Dengan penetapan pandemi oleh WHO dan PSBB oleh Pemerintah Indonesia, maka Kemendikbud mengambil langkah yang tegas yaitu meniadakan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan dengan bertatap muka di sekolah dan menggantikannya dengan pembelajaran jarak jauh atau PJJ yang dilakukan dirumah masing-masing dengan memanfaatkan jaringan internet yang tersedia. Hal tersebut tertera di surat edaran Mendikbud Nomor: 36962/MPK.a/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari rumah dalam upaya pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Sistem pembelajaranpun kini diubah menjadi lebih mobile karena dilaksanakan di gadget atau gawai yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Dengan tersedianya internet yang memadai, guru dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), Telegram, Instagram, aplikasi Zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Hal ini merupakan hal yang baru untuk beberapa guru termasuk guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) seperti saya.

Peran agama dalam kehidupan umat manusia adalah hal yang sangat penting, yaitu sebagai pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Dengan menyadari pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia, maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah umum sejak sekolah dasar (SD), sampai perguruan tinggi mempunyai peranan yang sangat strategis dan signifikan dalam membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu dan berkepribadian muslim sejati, dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki nilai dan sikap, sehat, berilmu cakap,kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis, bertanggung jawab. Maka, jelas tujuan pendidikan agama islam yang utama adalah mewujudkan manusia yang beriman, taat, dan bertakwa kepada Allah SWT, kemudian mampu menjalankan dan membangun berbagai tugas secara bersama-sama, tugas-tugas dalam membangun kehidupan bersama secara keseluruhan dengan sebaik-baiknya dipermukaan bumi ini sesuai dengan prinsip kehidupan menurut Al-qur’an dan As-sunnah.

Sedangkan, pengertian pendidikan budi pekerti Menurut M. Athiyah Al-Abrasyi (1990:1) adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan yang sebenarnya dari pendidikan Islam. Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa kita tidak mementingkan pendidikan jasmani, akal, ilmu ataupun dari segi yang lainnya, yang artinya bahwa kita memperhatikan pendidikan akhlak sama juga kita memperhatikan pendidikan lainnya. Para ahli juga berpendapat bahwa pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang mereka ketahui, akan tetapi dengan mendidik akhlak dan jiwa mereka menamakan fadhilah (keutamaan), membisakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, ikhlas dan jujur.

Orang tua atau wali murid merupakan kunci dari pembelajaran jarak jauh ini, karena orang dewasa yang mendampingi sebagai pengawas siswa selama 24 jam saat ini hanyalah orang tua atau wali murid. Dengan begitu, komunikasi dinilai sangat penting antara guru dan orang tua agar pembelajaran tetap berlangsung sesuai dengan tujuannya. Selaku guru yang mengampu mata pelajaran PAI-BP di SD Negeri 1 Wonodadi, saya memaksimalkan penggunaan media sosial khususnya WhatsApp yang sekarang sudah tidak asing dan sangat sering digunakan banyak orang. Saya meminta orang tua atau wali murid agar memperhatikan ibadah para siswa khususnya sholat, karena ibadah yang paling utama adalah sholat. Kemudian selain sholat, kegiatan yang dilakukan di rumah seperti menyapu, membersihkan kamar tidur, membantu ibu untuk mencuci piring termasuk kedalam nilai tambahan karena kegiatan ini merupakan tanda bahwa siswa bertakwa kepada Allah SWT. Mengapa? Membantu orang tua dalam mengerjakan pekerjaan rumah adalah tanda bahwa siswa berbakti pada orang tua, dan dengan berbaktinya siswa dengan orang tua, maka siswa telah taat kepada Allah SWT. Seperti yang disebutkan di Al-Qur’an surah Luqman ayat 14 yang artinya “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” dengan meminta orang tua memantau para siswa di rumah, para siswa akan merasa segan dan mulai melakukan kewajiban-kewajiban mereka sebagai seorang muslim.

Dari berkomunikasi dengan orangtua, saya dapat mendapatkan informasi berupa perkembangan para siswa selama melakukan pembelajaran jarak jauh. Informasi ini sangat dibutuhkan sebagai bahan untuk evaluasi yang dilakukan di sekolah oleh kepala sekolah setiap semester agar kedepannya lebih baik lagi.
(Rosidi, S.Pd.I, Guru PAI-BP di SD Negeri 1 Wonodadi Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *