25 Oktober 2021
Opini

Seni Mengajar PAI di SD

MENGAJAR merupakan seni (Herry Sukarman), maka perlu kreatif seorang guru agar pada proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas bisa menyenangkan peserta didik. Seiring kemajuan teknologi informatika, mudahnya siswa memperoleh pengalaman baru dan menarik. Program televisi pendidikan begitu variasi, mudahnya akses internet, serta game yang mudah didapat yang mudah dimengerti oleh anak. Anak mudah menghafal tokoh maupun alur cerita yang dilihat, didengar atau dimainkan. Seorang anak dengan mudahnya menemukan permainan terbaru. Program baru muncul akan cepat diaksesnya. Bagaimana dengan seorang guru, akankah hanya menjadi konsumen dari Teknologi, atau akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk menjembatani siswa pada proses pembelajaran.

Muhamad Sahuri, S.Pd.I.,M.Pd.

Proses belajar mengajar yang layak kita temui sehari-hari, ada lima pilar yaitu: (1). Ada siswa; (2). guru; (3). materi pembelajaran; (4). metode ;(5). sumber dan alat pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah QS. Lukman ayat 13. “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. ( QS. Lukman 13 )

Ayat di atas bisa ditarik dalam satu gambaran : Pertama, sosok guru diwakili oleh Lukman. Dua, sosok siswa yang diperankan oleh anaknya . Tiga materinya syirik. Empat, metode menggunakan ceramah dan kelima, sumber dan alat Al quran dan alatnya persamaan/menyamakan dengan sesuatu / mempersekutukan.

Mempertimbangkan hal tersebut sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SDN1 Kedungsari menyadari bahwa dalam pembelajaran perlu terobosan-terobosan berupa alat yang bisa menarik minat belajar siswa untuk bisa menjelaskan materi yang diajarkan ataupun pembelajaran itu bisa menjadi hidup. Alat peraga ini tentu disesuaikan dengan keadaan siswa, materi pembelajaran, biaya yang tersedia dan faktor kebutuhan anak dan materi yang akan disampaikannya.
AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming (1987 : 234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua fihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Heinich dan kawan–kawan (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi , televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan, dan sejenisnya adalah media komunikasi

Alat peraga yang penulis maksud adalah alat yang berfungsi mempermudah pemelajaran bukan alat yang justru membuat anak itu bingung. Alat ini bisa berupa benda atau miniatur sebuah bangunan atau desain. Juga bisa berupa film pembelajaran atau media elektronik yang lain. Atau bisa juga dengan permainan kata-kata yang berfungsi mencari makna sebuah kata sehingga anak akan aktif berfikir dalam sebuah rangkaian kalimat yang terangkai dalam sebuah permaianan. “Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran”.

Pengalaman penulis ketika membuat peraga sederhana tapi bisa mengantarkan materi kepada peserta didik melakukan sesuatu dalam bingkai permaian. Penulis mencoba berbagi membuat alat peraga untuk menerangkan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas tiga Pelajaran lima ” Salat Kewajibanku ” dengan merangkai triplek yang dibentuk seperti pesawat juga dalam kesempatan berikutnya bisa dibentuk dalam bentuk masjid. Penulis mencoba membuat alat peraga ini diilhami dari film yang biasa ditonton anak-anak berupa film yang bisa berubah-ubah ujud atau bentuk. Pada sisi-sisi pesawat atau masjid yang terbuat dari triplek itulis kata-kata bermakna. Adapun untuk menerangkan urutan salat dibuat gambar di MMT yang dimasukkan dalam pesawat yang terbuat dari triplek.

Pesawat tersebut diberi nama ” Ni-Ju-Li”. Kata Ni-Ju-Li ini sesungguhnya berasal dari kata Ni-Nia Nindakke. Ju. raJu Jumeneng. Li aLi Lima. Kalau kita rangkai dalam permainan kata maka akan terangkai Ni-Ju-Li itu adalah Nia, Raju, Ali Nindakke Jumeneng Lima. Apabila ditulis dalam bahasa Indonesianya ” Nia, Raju, Ali menjalankan salat lima waktu. Ini ternyata anak kemudian mencontoh membuat istilah-istilah yang bisa mencerdaskan pola pikir mereka.

Pesawat yang dimaksud diberinama” Burok 43424”. Nama ini juga bisa di uraikan dalam sebuah kata ”BUROK” :
B = Belajar
U = Usaha
R = Rajin
O = Orientasi
K = Keimanan

Ini untuk menjelaskan sejarah diterimanya perintah salat yaitu ketika Nabi Muhammad SAW bersama malaikat Jibril naik ke sidratul muntaha naik Burok. Tentu dalam hal ini burok yang dimaksud bukanlah pesawat yang seperti sekarang ini. Penggunaan ini dikandung maksud untuk bisa memahami. Itu semua siswa perlu ”Belajar,Usaha, Rajin, punya Orientasi, dan yang paling mendasar adalah punya Keimanan. Sedangkan dinding masjid ditulis ”43424” dikandung maksud :
4 = 4 rakaat salat asar’
3 = 3 rakaat salat maghrib
4 = 4 rakaat salat isya’
2 = 2 rakaat salat subuh
4 = 4 rakaat salat zuhur
Rangkaian kata ”43424” digunakan untuk menjelaskan dan mempermudah bagi siswa kelas tiga Sekolah Dasar dalam memahami kewajiban umat muslim dam menjalankan salat lima waktu dengan jumlah 17 rakaat tersebut sangatlah utama apabila dilakukan di Masjid. Sedang praktek salatnya digambar dalam MMT dari awal yaitu niat sampai akhir atau salam kemudian digulung dan diputar secara berurutan.

Gambaran pengalaman penulis merupakan ujud kreatifitas guru dalam pembelajaran, agar peserta didik tidak merasa jenuh dalam belajar . Guru dituntut untuk selalu berinovasi. Menjadi guru frovisional adalah sebuah keharusan sehingga apa yang dilakukannya haruslah mencerminkan frovisionalisme sebagai konsekwensi pilihannya dan harus mempertanggung jawabkannya. Lebih-lebih dalam perkembangan teknologi seperti sekarang ini hendaknya guru bisa memanfaatkan dan pelopor. Jangan sampai guru hanya sebagai penonton atau pengguna yang tidak bisa mengembangkannya.

Pada akhirnya menjadi seorang guru haruslah pandai menciptakan media pembelajaran / alat peraga yang dapat menarik serta menyenangkan dan bisa mempermudah materi yang diajarkannya. Seorang guru hendaknya bisa menjadi sutradara sekaligus aktor dalam pembelajaran. Sehingga akan menyenangkan dan diidolakan oleh peserta didik yang pada akhirnya proses pembelajaran yang mereka ciptakan akan terasa indah, menyenangkan dan mudah untuk diingat. Untuk itu perlulah kiranya alat bantu / media agar bisa menunjang kegiatannya. Alat tersebut bisa berupa barang yang sudah jadi atau diciptakan sendiri oleh seorang guru. Sehingga proses akan tampak hidup adanya interaksi antara guru dan peserta didik dan pembelajaran tidak terasa monoton.

(Muhamad Sahuri, S.Pd.I.,M.Pd., Guru PAI-BP SDN 1 Kedungsari, Kec. Singorojo Kab. Kendal)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *